Jakarta - Saat ini, hidrogel semakin banyak diperhatikan karena berbagai manfaat yang dimilikinya. Berdasarkan hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang melakukan kajian mengenai potensi hidrogel yang dapat dikembangkan sebagai material konduktif. Penjelasan ini disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, Yusuf Nur Wijayanto, dalam webinar SISTEM (Sharing Ilmiah Sains & Teknologi Elektronika dan Manfaatnya) Volume 7 yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026).
Yusuf menjelaskan bahwa hidrogel dapat dikembangkan untuk menghasilkan berbagai sistem cerdas, termasuk dalam aplikasi kesehatan, antarmuka manusia-mesin, hingga robotika.
Kombinasi dan Kolaborasi dalam Pengembangan Hidrogel
Hidrogel juga memiliki potensi untuk dikombinasikan dengan berbagai bidang seperti sensor, sistem tertanam, IoT, komunikasi nirkabel, dan pemrosesan data. Menurut Yusuf, hal ini membuka peluang kolaborasi yang sangat baik antara ilmu material dan teknik elektro. "Sehingga kolaborasi tidak berhenti pada pengembangan material, tetapi dapat berlanjut hingga menghasilkan divais, prototipe, dan sistem terintegrasi yang siap dikembangkan untuk kebutuhan nyata yang berdampak luas," ungkapnya, seperti dikutip dari laman BRIN pada Jumat (30/10/2026).
Sifat hidrogel yang fleksibel dan adaptif memungkinkan material ini dikembangkan menjadi konduktif untuk berbagai kebutuhan.
Potensi Aplikasi Hidrogel dalam Elektronika
Peneliti Ahli Muda PRE BRIN, Nur Rohmah, menambahkan bahwa hidrogel dapat digunakan dalam perangkat elektronika. Hidrogel dapat direkayasa terlebih dahulu atau diintegrasikan dengan material yang memberikan sifat konduktif. "Pendekatan ini dapat dilakukan melalui penggunaan nanomaterial konduktif, polimer konduktif, maupun konduktor ionik," jelas Nur.
Modifikasi tersebut memungkinkan sifat elektrik hidrogel, seperti konduktivitas dan respons terhadap tekanan atau regangan, untuk disesuaikan dengan kebutuhan aplikasi. Inovasi hidrogel konduktif yang menggunakan bahan baku lokal dan ramah lingkungan juga dapat dikembangkan menjadi sensor fleksibel. Inovasi ini diharapkan dapat mendeteksi regangan, tekanan, sentuhan, dan perubahan gaya.
"Teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada perangkat wearable untuk pemantauan gerakan dan kesehatan, sensor taktil pada robot lunak (soft robotics), interaksi manusia-mesin, serta berbagai sistem elektronika fleksibel untuk kebutuhan pemantauan secara real-time," jelas Nur.