Jakarta - Sejak tahun 1999, Welin Kusuma tidak pernah berhenti menempuh pendidikan. Pria berusia 40 tahun ini telah berhasil meraih 14 gelar S1, 3 gelar S2, dan sejumlah gelar profesi lainnya. "Selalu, pasti saya terdaftar, selalu terdaftar (sebagai mahasiswa) gitu. Jadi kalau nggak S1 ya S2 gitu ya, atau barengan gitu. Jadi nggak pernah kosong, karena menurut saya, ini ya, saya ingin eksplor untuk tahu macam-macam ilmu gitu," ungkap Welin.
Setelah menyelesaikan satu program studi, Welin langsung mendaftar ke program studi lainnya. Namun, terkadang ia menghadapi kendala untuk mendaftar kembali karena belum menjalani yudisium. "Kalau misalnya sudah lulus, saya langsung daftar lagi gitu. Kecuali kalau memang sekarang ini agak sulit kadang kan, karena ada sistem di PDDikti itu dia ngecek NIK. Jadi kalau belum yudisium itu nggak bisa daftar lagi," jelasnya. "Tapi kalau setelah sudah yudisium, langsung saya daftar gitu," tambahnya.
Perjalanan Pendidikan yang Beragam
Saat ini, Welin sedang menempuh pendidikan S1 di bidang Teknologi Pendidikan di Universitas Terbuka (UT) sambil menjalani sertifikasi profesi dan bekerja. Ia pernah berkuliah di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. "Saya awalnya ngambil di swasta. Waktu itu saya ambil di Surabaya, itu Universitas Surabaya, universitas swasta. Tapi setelah itu saya juga ngambil yang di negeri, ada di Unair gitu, lalu ada ITS," ujarnya.
Motivasi Belajar yang Kuat
Motivasi Welin untuk terus berkuliah berasal dari pengalamannya melihat orang tuanya yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. "Saya lihat, oh ternyata dengan kita belajar itu banyak gunanya ternyata. Kalau kita lulus salah satu bidang atau beberapa bidang, kita bisa menyelesaikan banyak permasalahan gitu ya," katanya.
Welin juga pernah mengalami masa sulit ketika harus menyelesaikan skripsi dan tesis secara bersamaan, di mana ia juga sudah bekerja. Ia bahkan pernah menerima surat peringatan drop out, namun bertekad untuk menyelesaikan semua tanggung jawabnya. "Satunya 19 semester, satunya 10 semester. Cuma saya tetap tahu, kan saya komit, oh saya memang sudah ngambil gitu ya, effort-nya sudah luar biasa. Jadi saya atur waktunya, jadi setiap semester saya ada target, harus lulus paling nggak satu program studi gitu. Jadi setiap semester saya pasti berkurang bebannya gitu, dan terakhir-akhirnya saya berhasil lulus semua juga," jelasnya.
Welin mengingat bahwa ia memulai kuliah di era sebelum internet dikenal luas. "Saya mulainya dari zaman sebelum ada internet, di '99 kan internetnya masih belum terkenal gitu ya. Jadi orang-orang tertentu aja yang pakai. Waktu itu saya belum ada juga, jadi belum punya akses ke internet. Jadi ngerjainnya manual gitu," kenangnya.
Saat ini, IPK tertinggi yang diraihnya adalah sekitar 3,9 dari program S1 Ekonomi Manajemen di STIE Urip Sumoharjo, yang kini dikenal sebagai Institut Kesehatan dan Bisnis Surabaya (IKBIS). Welin menyatakan bahwa ia masih mempertimbangkan untuk melanjutkan studi ke jenjang S3. "Apakah nuntut gitu ya, nanti sudah ada keluarga, lalu harus kuliah lagi gitu ya. Cuma memang saya carinya kuliah yang, kalau bisa nggak ini ya, nggak terlalu memberatkan," ungkapnya.
Ia berharap dapat menemukan program yang fleksibel, seperti kelas hybrid yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan online. "Jadi waktunya bisa disambi, dan saya lihat banyak kok sekarang yang kuliahnya dari perguruan tinggi negeri pun ada yang buka kelas, yang bisa online gitu. Jadi lebih condong ke hybrid sih, jadi ada tetap mukanya tapi ada juga yang online-nya," tutupnya.