Fakta Ekonomi

Kredit Perbankan Menunjukkan Pertumbuhan Positif di Tengah Ketidakpastian Global

Pertumbuhan kredit perbankan kembali mencatatkan angka dua digit pada Mei 2026, menandakan penguatan aktivitas pembiayaan yang berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi.

A
Amara Rukmana
18 June 2026
5 pembaca
Foto: Humas LPS
Foto: Humas LPS

Di Jakarta, pertumbuhan kredit perbankan berhasil mencapai angka dua digit pada bulan Mei 2026 setelah sebelumnya mengalami pertumbuhan satu digit. Hal ini menunjukkan adanya penguatan dalam aktivitas pembiayaan yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di tengah situasi ketidakpastian global.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa kredit perbankan mengalami pertumbuhan sebesar 11,51 persen secara tahunan (yoy) pada Mei 2026, yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan April 2026 yang tercatat sebesar 9,98 persen. Dalam konferensi pers yang diadakan setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada bulan Juni 2026, Perry menyatakan, “Kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh sebesar 11,51 persen (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026 sebesar 9,98 persen (yoy).”

Komposisi Pertumbuhan Kredit

Perry menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit ini didorong oleh semua kategori penggunaan. Kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 21,95 persen, diikuti oleh kredit modal kerja yang tumbuh 8,09 persen dan kredit konsumsi yang meningkat 5,89 persen. Kuatnya pertumbuhan kredit ini sangat penting karena pembiayaan dari perbankan masih menjadi salah satu penggerak utama dalam aktivitas ekonomi nasional, terutama untuk mendukung ekspansi usaha dan investasi.

Proyeksi dan Ketahanan Sektor Perbankan

Bank Indonesia memproyeksikan bahwa pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan tetap berada dalam kisaran 8 persen hingga 12 persen. Perry menambahkan, “Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8—12 persen.” Proyeksi ini didukung oleh besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan, atau undisbursed loan, yang mencapai Rp 2.576 triliun, setara dengan 22,41 persen dari total plafon kredit yang tersedia.

Selain itu, kapasitas pembiayaan perbankan dinilai memadai, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 24,74 persen pada Mei 2026, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,47 persen secara tahunan. Perry juga menyampaikan bahwa perkembangan suku bunga diharapkan dapat mendukung penyaluran kredit. Rata-rata suku bunga kredit pada Mei 2026 tercatat sebesar 8,72 persen, sementara suku bunga deposito satu bulan berada di level 4,26 persen.

Di sisi lain, BI menilai ketahanan industri perbankan tetap kuat meskipun terdapat peningkatan risiko global, termasuk konflik yang terjadi di Timur Tengah. Pada bulan April 2026, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,97 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tetap rendah, yaitu 2,17 persen secara bruto dan 0,84 persen secara neto. Perry menyatakan, “Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik.”

Artikel Terkait