Fakta Ekonomi

Leni, Perempuan Inspiratif di Danau Sipin yang Mengubah Sampah Menjadi Harapan

Di tepi Danau Sipin, Jambi, Leni, seorang mantan atlet dayung, berjuang mengubah lingkungan sekitar dengan mendirikan bank sampah. Perjuangannya membangkitkan harapan bagi banyak perempuan di komunita...

A
Amara Rukmana
14 September 2026
4 pembaca
Foto: PNM
Foto: PNM

Di pinggiran Danau Sipin, Jambi, terdapat seorang perempuan bernama Leni yang pernah mengalami kehilangan besar, namun tetap bertekad untuk melanjutkan perjuangannya. Leni menjabat sebagai Ketua Bank Sampah Dayung Habibah dan sehari-hari mengelola sampah di danau tersebut, sekaligus dikenal sebagai mantan atlet nasional dayung yang memulai kariernya di tempat yang sama. Sebelum menjadi penggerak lingkungan, Leni adalah seorang anak desa yang menjadikan Danau Sipin sebagai titik awal mimpinya, di mana ia pertama kali mengikuti ajang pencarian bakat atlet muda Jambi dan berhasil meraih juara.

Kemenangan tersebut membawanya ke Jakarta untuk menjalani pemusatan latihan dalam persiapan kejuaraan Asia, dunia, hingga SEA Games, yang seharusnya menjadi puncak kariernya. Namun, di tengah perjalanan menuju kesuksesan, Leni dihadapkan pada ujian hidup yang tak terduga. Pada tahun 2010, ia mengalami cobaan berat ketika anaknya lahir dengan kondisi kulit langka yang membuatnya rentan terhadap luka akibat sinar matahari. Untuk membiayai pengobatan anaknya, Leni rela menjual medali-medali yang telah diperolehnya selama bertahun-tahun, sebuah keputusan yang membuatnya menjadi sorotan publik dan menjadi titik terberat dalam hidupnya.

Kembali ke Danau Sipin

Namun, dari titik terendah tersebut, Leni mendapatkan kesempatan baru ketika Kementerian Pemuda dan Olahraga mengajaknya untuk menjadi pelatih dayung di Jambi. Tawaran ini membawanya kembali ke Danau Sipin, yang saat itu dalam kondisi memprihatinkan, dipenuhi sampah di setiap sudutnya. Danau yang dulu membesarkan mimpinya kini menyambutnya dalam keadaan yang jauh dari baik, dan dari sinilah babak baru dalam hidup Leni dimulai.

Dalam kondisi yang sulit, Leni mendirikan Dayung Habibah, yang merupakan gabungan dari kecintaannya pada olahraga dayung dan nama anaknya, Habibah. Niat awalnya untuk mengumpulkan sampah perlahan berkembang menjadi cita-cita untuk mendirikan bank sampah, meskipun ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk pandangan skeptis dari warga sekitar yang mempertanyakan keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan yang dianggap rendah.

Transformasi Melalui Pembiayaan Mikro

Pada tahun 2018, Leni menemukan titik balik ketika ia bergabung dengan program pembiayaan dan pemberdayaan Mekaar dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Program ini menawarkan pembiayaan ultra mikro tanpa agunan yang dirancang khusus untuk perempuan dengan usaha kecil. Modal awal sebesar Rp2.500.000 perlahan berkembang menjadi Rp10.000.000, seiring dengan pertumbuhan usaha pengolahan sampah yang kini telah mempekerjakan empat karyawan tetap.

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada usahanya, tetapi juga mengubah wajah komunitas di sekitar Danau Sipin. Lima belas perempuan yang awalnya bergabung dalam program ini kini telah membentuk kelompok yang secara perlahan menggerakkan ekonomi lokal. Kepercayaan yang tumbuh dari komunitas ini membuka lebih banyak peluang bagi Leni untuk berkembang, tidak hanya sebagai penerima modal tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem layanan keuangan yang lebih luas.

Seiring berjalannya waktu, Leni juga mendapatkan tambahan penghasilan dengan menjadi agen BRILink Mekaar, yang memudahkan tetangganya untuk membayar listrik dan biaya sekolah anak tanpa harus pergi jauh ke kota. Selain itu, ia mulai menabung emas melalui Tabungan Emas Pegadaian, yang kini semakin mudah diakses melalui aplikasi digital. Tiga layanan ini, yang berasal dari tiga entitas berbeda, bersatu dalam satu ekosistem yang mendukung perjalanan hidup Leni yang sempat terpuruk.

Kerja keras Leni yang awalnya dipandang sebelah mata kini mendapatkan pengakuan, termasuk penghargaan Kalpataru. Namun, bagi Leni, penghargaan sejati bukanlah piala yang dipajang, melainkan keberhasilan menghidupkan kembali danau serta memberikan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anaknya. "Saya menangis, kenapa Allah punya cerita untuk saya begitu. Jadi saya bisa membantu teman-teman," kenangnya, mengingat perjalanan yang dimulai dari satu perahu dan satu genggam sampah.

Perjalanan Leni, yang dimulai dari satu perahu dan satu genggam sampah, mencerminkan perjalanan yang lebih besar yang dirayakan tahun ini. Tanggal 13 September menjadi momen bersejarah bagi ekosistem keuangan mikro Indonesia, karena lima tahun lalu pada tanggal yang sama, Holding Ultra Mikro lahir dari sinergi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero), dengan cita-cita sederhana untuk memastikan tidak ada lagi pengusaha kecil yang berjuang sendirian.

Group CEO BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa lima tahun pertama Holding Ultra Mikro merupakan fondasi untuk membangun fase pertumbuhan selanjutnya. Dengan skala ekosistem yang telah terbentuk, fokus selanjutnya adalah memastikan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat ekonomi dari integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM. “Pada akhirnya, tujuan Holding Ultra Mikro bukan sekadar menjadi ekosistem keuangan dengan skala yang besar. Kami ingin menjadi ekosistem yang mampu membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju kesejahteraan. Inilah kontribusi BRI Group untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan pertumbuhan yang semakin inklusif,” tegas Hery.

Cita-cita sederhana tersebut telah menjangkau jutaan perempuan prasejahtera di seluruh Indonesia, membuka jalan bagi mereka untuk naik kelas melalui pembiayaan, pendampingan, dan pendidikan keuangan yang berkelanjutan. Leni adalah salah satu dari jutaan wajah tersebut, menjadi bukti bahwa modal kecil, jika disertai pendampingan yang tulus, mampu menumbuhkan keberanian sebesar keinginan untuk bertahan. "Lima tahun perjalanan Holding Ultra Mikro adalah lima tahun kita belajar bahwa pemberdayaan sejati tidak diukur dari besarnya modal, melainkan dari seberapa jauh ia menuntun seseorang kembali berdiri. Kisah Ibu Leni mengingatkan kita, di balik setiap danau yang kembali jernih, ada perempuan yang memilih untuk terus berjuang, dan PNM bersama BRI dan Pegadaian akan selalu berusaha untuk hadir menemani perjuangan itu," ungkap Kindaris, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Dari satu danau, satu keluarga, dan satu tekad untuk tidak menyerah, lahirlah kisah yang mengingatkan kita semua bahwa lima tahun Holding Ultra Mikro bukan sekadar angka pencapaian, melainkan lima tahun harapan yang terus mengalir, seperti Danau Sipin yang kini kembali menjadi sumber kehidupan.

Artikel Terkait