Fakta Pendidikan

Mengapa Abu Vulkanik Masih Ada Meski Anak Krakatau Tidak Erupsi Terus-Menerus?

Meskipun Gunung Anak Krakatau tidak lagi mengalami erupsi terus-menerus, masih terdapat laporan mengenai keberadaan abu vulkanik di beberapa daerah. Penjelasan mengenai fenomena ini melibatkan faktor...

A
Agustinus Jaya Wiratama
15 September 2026
5 pembaca
Abu dan gas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam citra yang diambil melalui OLI (Operational Land Imager) pada Landsat 8 pada 5 September 2026. Foto: NASA Earth Observatory/Michala Garrison
Abu dan gas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam citra yang diambil melalui OLI (Operational Land Imager) pada Landsat 8 pada 5 September 2026. Foto: NASA Earth Observatory/Michala Garrison

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa pada Senin, 14 September 2026, pukul 07.00 WIB, sebaran debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi. Data ini diperoleh melalui analisis citra RGB dari satelit Himawari-9. BMKG menegaskan bahwa meskipun debu vulkanik tidak teridentifikasi dalam analisis satelit, hal ini tidak berarti bahwa debu tersebut tidak ada.

Beberapa pengguna media sosial melaporkan adanya abu vulkanik di Jakarta dan Lampung setelah perubahan erupsi Gunung Anak Krakatau dari erupsi terus-menerus menjadi erupsi Strombolian pada Minggu (6/9). Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa erupsi Strombolian berbeda dengan erupsi terus-menerus, karena bersifat sporadis dan menghasilkan jatuhan piroklastik seperti batu, pasir, serta percikan lava yang mengendap di sekitar kawah.

Penyebab Keberadaan Abu Vulkanik

Setelah serangkaian erupsi yang menghasilkan abu vulkanik berakhir, Survei Geologi AS (USGS) menjelaskan bahwa angin dan aktivitas manusia dapat mengaduk abu yang telah jatuh selama berbulan-bulan. Campuran partikel batu dan silika ini dapat terbawa oleh angin hingga ribuan kilometer, sehingga keberadaan abu vulkanik dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal jauh dari lokasi erupsi.

Pergerakan Abu Vulkanik oleh Air dan Angin

USGS juga menyatakan bahwa abu vulkanik yang telah jatuh ke lingkungan dapat bergerak kembali dan terendap ketika bercampur dengan air, serta dapat terkikis. Abu vulkanik halus yang sudah jatuh juga bisa terangkat kembali oleh angin, terutama di daerah yang kering dan berangin. Keberadaan abu vulkanik yang terangkat dapat membentuk awan abu, yang dapat teramati baik secara langsung maupun melalui satelit.

Tips Menghindari Dampak Abu Vulkanik

Apabila abu vulkanik masih ada, berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan: tetaplah berada di dalam ruangan, pastikan jendela dan pintu tertutup, dan hindari penggunaan pemanas atau AC yang menarik udara dari luar. Jika harus beraktivitas di luar, usahakan untuk lebih banyak berada di dalam kendaraan atau bangunan. Untuk mencegah inhalasi abu vulkanik, gunakan masker atau kain di sekitar hidung dan mulut, serta gunakan kacamata dan hindari lensa kontak jika memungkinkan, karena abu vulkanik bisa merusak mata jika terperangkap di antara lensa dan mata.

Selain itu, penting untuk memantau informasi terkini dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang. Jika penyebaran abu vulkanik sudah berhenti, disarankan untuk membuang air yang terkontaminasi abu vulkanik dan mencuci sayuran yang terpapar abu vulkanik sebelum dikonsumsi.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait