Fakta Hukum

Penggerebekan Besar Laboratorium Narkoba di Aceh, 1,2 Ton Sabu Disita

Tim gabungan dari Polri, BNN, dan Bea Cukai berhasil membongkar laboratorium narkoba terbesar di Indonesia yang terletak di Pidie, Aceh, dan menyita 1,2 ton sabu serta menangkap 11 orang tersangka.

A
Amara Rukmana
25 October 2026
18 pembaca
Tim gabungan Polri, BNN, dan Direktorat Jenderal Bea Cukai, membongkar laboratorium narkotika terbesar di Indonesia berlokasi di Pidie, Aceh. (Dok. Istimewa)
Tim gabungan Polri, BNN, dan Direktorat Jenderal Bea Cukai, membongkar laboratorium narkotika terbesar di Indonesia berlokasi di Pidie, Aceh. (Dok. Istimewa)

Tim gabungan yang terdiri dari Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai berhasil mengungkap laboratorium rahasia narkotika terbesar di Indonesia yang berlokasi di Pidie, Aceh. Dalam operasi yang dilakukan pada Rabu, 21 Oktober 2026, sebanyak 11 orang berhasil ditangkap dan 1,2 ton sabu berhasil diamankan.

Video yang diperoleh menunjukkan bahwa penggerebekan berlangsung pada siang hari. Laboratorium tersebut tersembunyi di deretan ruko di kawasan Mutiara Timur, Pidie. Setibanya di lokasi, petugas langsung mengepung ruko dari dua sisi, namun semua pintu dalam keadaan terkunci rapat. Meskipun petugas sempat mengetuk pintu, tidak ada respons dari penghuni.

Penyergapan dan Penangkapan

Petugas akhirnya mengambil langkah tegas dengan mendobrak pintu belakang ruko. Begitu pintu terbuka, mereka langsung memasuki bangunan yang tampak gelap dan berantakan. Di dalam, sejumlah orang terlihat berusaha bersembunyi. Namun, upaya mereka untuk melarikan diri tidak berhasil, dan petugas berhasil menangkap mereka satu per satu.

Enam orang berhasil diamankan di ruko tersebut, dengan inisial LJ, XM, F, MY, AK, dan AY. Sementara itu, lima tersangka lainnya yang terhubung dengan jaringan ini juga ditangkap di lokasi berbeda, yaitu RY, RM, RZ, MN, dan B.

Temuan di Lokasi Penggerebekan

Ruko tersebut telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan ruangan-ruangan yang digunakan untuk setiap tahapan produksi sabu. Di dalamnya ditemukan berbagai bahan kimia berbahaya serta peralatan produksi yang lengkap. Petugas menyita sejumlah barang bukti, termasuk sabu cair, tabung gas, kompor, alat penyinaran, mesin pendingin, timbangan, ember, paket sabu siap edar, dan mesin cuci yang digunakan untuk proses pengkristalan.

Diduga kuat, sindikat ini terhubung dengan jaringan narkoba internasional yang berasal dari China, Malaysia, dan Indonesia. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto hadir langsung di lokasi untuk memimpin konferensi pers mengenai pengungkapan kasus ini pada Jumat, 23 Oktober. Ia menyatakan bahwa laboratorium ini memproduksi sabu jenis blue ice.

"Sabu yang bisa dibilang terbaik atau dikenal dengan blue ice ini berhasil kita ungkap berkat kolaborasi, keterpaduan, dan joint operation antar-lembaga, baik Polri, BNN, Bea Cukai, serta didukung oleh masyarakat setempat," ungkap Suyudi.

Ia juga menekankan bahwa nilai sabu yang berhasil disita sangat fantastis dan yang terpenting adalah menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba. Dari lokasi, petugas mengamankan berbagai barang bukti, termasuk 60 kaleng Titan Pro, empat kompor dua tungku, tujuh tabung gas 12 kg, tiga mesin cuci untuk pengkristalan, dan enam unit ponsel milik para pelaku.

"Proses yang mereka lakukan sangat sistematis, sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman," tegas Suyudi.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan masyarakat, terutama pemilik properti sewa, untuk lebih waspada dan selektif terhadap calon penyewa ruko atau kontrakan. "Hati-hati, saya berpesan terutama kepada pemilik ruko atau rumah kontrakan; harus betul-betul memastikan bahwa penyewa ruko atau rumah kita adalah orang-orang yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan," imbaunya.

Sebagai langkah tindak lanjut, aparat akan melakukan uji laboratorium forensik untuk memeriksa tingkat kemurnian barang bukti dan mengamankan sabu cair dalam wadah kedap udara pada suhu stabil agar tidak menguap. Selain itu, Polri juga sedang memburu para DPO yang berperan sebagai pengatur lapangan dengan inisial Z, ES, J, BR, S, dan S. Kerja sama internasional juga telah dibangun dengan Komisi Pengawasan Narkotika Nasional (NNCC) Tiongkok untuk mengejar aktor pengendali utama berinisial LX.

Artikel Terkait