Fakta Nasional

Taktik Berubah-ubah Trump Terkait Konflik dengan Iran Mendapat Sorotan

Iran menyoroti perubahan sikap Presiden AS Donald Trump terkait rencana serangan terhadap negara tersebut, yang dinilai tidak konsisten. Keputusan Trump untuk menunda serangan diambil setelah adanya p...

P
Panca Akbar Saputra
20 May 2026
41 pembaca
Foto: Alex WROBLEWSKI/AFP via Getty Images
Foto: Alex WROBLEWSKI/AFP via Getty Images

Jakarta - Perubahan strategi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai rencana serangan terhadap Iran menarik perhatian dari pihak Iran. Mereka menyebut Trump sebagai sosok yang plin-plan. Menurut catatan detikcom pada Selasa (20/5/2026), Trump telah beberapa kali menyatakan keinginannya untuk menyerang Iran setelah negosiasi yang berulang kali mengalami kebuntuan. Meskipun niat untuk melakukan serangan hampir terwujud, Trump akhirnya membatalkan rencananya pada Selasa (19/5) lalu.

Trump mengungkapkan bahwa ia diminta oleh Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk menunda serangan tersebut. Rencana serangan awalnya dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa itu.

Negosiasi yang Berlanjut

Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa para pemimpin negara Teluk telah melakukan negosiasi yang serius. Ia percaya bahwa negosiasi tersebut akan menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh Amerika Serikat. "Bahwa negosiasi serius sedang berlangsung, dan bahwa, menurut pendapat mereka, sebagai Pemimpin dan Sekutu yang Hebat, sebuah Kesepakatan akan dibuat, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua Negara di Timur Tengah, dan sekitarnya," ujar Trump di platform Truth Social miliknya. "Kesepakatan ini akan mencakup, yang terpenting, TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!" tambahnya.

Respons Iran terhadap Keputusan Trump

Trump juga menyampaikan bahwa ia telah menginstruksikan jajarannya untuk tidak melanjutkan rencana serangan ke Iran pada hari Selasa itu. Namun, ia menekankan bahwa pasukannya tetap harus bersiap jika diperlukan untuk melakukan serangan. "Berdasarkan rasa hormat saya kepada para Pemimpin yang disebutkan di atas, saya telah menginstruksikan Menteri Perang, Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Daniel Caine, dan Militer Amerika Serikat, bahwa kita TIDAK akan melakukan serangan terjadwal ke Iran besok (Selasa, red), tetapi telah menginstruksikan mereka lebih lanjut untuk bersiap melakukan serangan skala besar ke Iran, kapan saja, jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai," jelasnya.

Penasihat senior untuk pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memberikan tanggapan terhadap keputusan Trump tersebut dengan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak konsisten. Ia menegaskan bahwa Teheran akan memaksa Amerika Serikat untuk mundur. Rezaei, yang merupakan mantan panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menilai pendekatan AS sebagai tidak konsisten dan pengecut. Dalam pernyataannya di media sosial X, Rezaei mengatakan bahwa Trump "menetapkan tenggat waktu untuk serangan militer dan kemudian membatalkannya sendiri, dengan harapan yang sia-sia untuk memaksa bangsa dan para pejabat Iran untuk menyerah!"

Lebih lanjut, Rezaei menekankan bahwa "Kekuatan militer yang tangguh dan bangsa Iran yang hebat akan memaksa mereka (AS-red) untuk mundur dan menyerah."

Komandan unit komando operasional tertinggi dalam militer Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, juga memberikan pernyataan yang menegaskan bahwa setiap agresi baru dari AS atau sekutunya akan dibalas dengan kekuatan luar biasa. "Kami mengumumkan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya: Jangan melakukan kesalahan strategis atau kesalahan perhitungan lagi," ucapnya. Abdollahi memperingatkan bahwa setiap agresi atau invasi baru oleh musuh-musuh Iran akan ditanggapi dengan respons yang cepat, tegas, kuat, dan luas.

Dia menambahkan bahwa jika musuh-musuh Iran berani melakukan kesalahan lagi, mereka akan menghadapi kekuatan dan kemampuan Teheran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan konflik yang telah terjadi sebelumnya. "Kami akan membela hak-hak bangsa Iran dengan segenap kekuatan kami dan memotong tangan setiap agresor," pungkas Abdollahi.

Artikel Terkait