Fakta Nasional

AS Berupaya Jalin Kontak dengan Oposisi Israel Terkait Pergantian Pemerintahan

Pemerintahan Amerika Serikat dilaporkan sedang berkomunikasi dengan oposisi Israel mengenai kemungkinan perubahan dalam kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kontak ini muncul di tengah ket...

P
Panca Akbar Saputra
22 June 2026
4 pembaca
Netanyahu dan Trump saat bertemu di Mar-a-Lago di Florida, AS, pada Desember 2025 (dok. REUTERS/Jonathan Ernst)
Netanyahu dan Trump saat bertemu di Mar-a-Lago di Florida, AS, pada Desember 2025 (dok. REUTERS/Jonathan Ernst)

Tel Aviv - Laporan terbaru mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang melakukan kontak dengan pihak oposisi di Israel. Kontak ini dianggap berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan dalam kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Tel Aviv.

Menurut informasi dari media lokal Israel, Channel 12, yang dilansir oleh Middle East Monitor pada Senin (22/6/2026), para pejabat di pemerintahan Presiden Donald Trump percaya bahwa ada kemungkinan pemerintahan Netanyahu akan digantikan. Hal ini mendorong AS untuk melakukan komunikasi informal dengan para pemimpin oposisi di Israel.

Komunikasi dengan Pemimpin Oposisi

Di antara para pemimpin oposisi yang berkomunikasi dengan Washington terdapat Naftali Bennett, mantan PM Israel yang kini menjabat sebagai ketua Partai Together, serta Gadi Eisenkot yang merupakan ketua Partai Yashar. Channel 12 melaporkan bahwa pemerintah AS telah menyatakan keprihatinan mengenai kelompok-kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berusaha membangun dukungan populer baru menjelang pemilu.

Oposisi Israel, menurut laporan tersebut, telah berupaya menjalin hubungan dengan pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir dan berhasil mencapai "kesuksesan terbatas" dengan beberapa pejabat yang kritis terhadap kebijakan Netanyahu. "Langkah Amerika bertujuan untuk memanfaatkan peluang politik mengingat krisis kepercayaan dengan pemerintah Israel saat ini," jelas Channel 12 dalam laporannya.

Pemilu dan Hasil Jajak Pendapat

Channel 12 juga menyebutkan bahwa AS merasa perlu untuk membangun "mekanisme kepercayaan informal baru" dengan Israel, meskipun Trump sendiri belum memberikan dukungan kepada politisi Israel lainnya. Jajak pendapat yang dirilis oleh surat kabar Israel, Maariv, pada Jumat (19/6) menunjukkan bahwa jika pemilu diadakan hari ini, oposisi Israel dapat membentuk pemerintahan baru dengan prediksi meraih 61 kursi di parlemen Knesset, sementara koalisi Netanyahu hanya akan mendapatkan 49 kursi.

Jajak pendapat tersebut juga memperkirakan bahwa partai-partai Arab di Israel akan memperoleh 10 kursi dalam pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Oktober mendatang. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak AS maupun Israel terkait laporan tersebut.

Laporan ini muncul di tengah negosiasi lanjutan antara AS dan Iran yang berlangsung di Swiss, dengan mediasi Pakistan, untuk mengakhiri secara permanen konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran pada akhir Februari lalu. Kesepakatan sementara yang ditandatangani oleh Washington dan Teheran menyerukan penghentian pertempuran di semua front, termasuk Lebanon. Namun, pemerintah Israel menolak seruan tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak terikat oleh kesepakatan AS-Iran. Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki di Lebanon bagian selatan.

Artikel Terkait