Fakta Ekonomi

Dampak Kesepakatan AS-Iran terhadap Ekonomi Indonesia Masih Memerlukan Waktu

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dipandang positif untuk perekonomian global, namun dampaknya terhadap rupiah dan pasar keuangan Indonesia diperkirakan tidak akan segera terlihat.

W
Wira Yudha
17 June 2026
38 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dianggap memberikan dampak positif bagi perekonomian global. Meskipun demikian, efeknya terhadap penguatan nilai tukar rupiah serta pasar keuangan domestik diperkirakan tidak akan terjadi secara instan.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan bahwa meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat menekan harga energi dan mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan global.

Respon Pasar Global

Dipo menjelaskan bahwa perkembangan negosiasi antara AS dan Iran merupakan sinyal yang sangat positif bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. "Secara garis besar, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran ini merupakan sinyal yang sangat baik bagi perekonomian global, termasuk Indonesia," ujarnya saat dihubungi. Menurutnya, pasar global telah memberikan respon positif terhadap perkembangan ini, yang terlihat dari penurunan harga minyak dunia setelah munculnya sinyal kesepakatan damai.

"Pasar langsung merespons dengan positif yang tercermin dari mulai turunnya harga minyak dunia. Kemarin malam saya cek, harga Brent berada di kisaran 80 dolar AS per barel," ungkap Dipo.

Perlu Waktu untuk Stabilitas

Meski demikian, Dipo mengingatkan bahwa sentimen positif ini belum tentu langsung mendorong penguatan rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menegaskan bahwa pasar memerlukan waktu untuk melihat dampak nyata dari normalisasi hubungan kedua negara terhadap perekonomian global. "Kalau untuk IHSG dan rupiah, belum tentu langsung membaik. Memang ada penurunan risiko atau risk-off, tetapi akan perlu waktu agar jalur perdagangan kembali normal dan juga perlu waktu agar country risk Indonesia turun," tambahnya.

Dipo juga menilai bahwa pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Ia menekankan bahwa sejumlah faktor domestik juga menjadi perhatian investor dalam menilai prospek aset keuangan Indonesia. "Karena sampai saat ini, mata uang Indonesia melemah ketika mata uang negara tetangga seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan baht Thailand justru menguat. Artinya, pelemahan rupiah tidak semata-mata karena faktor global saja," jelasnya.

Menurut Dipo, perbaikan sentimen global akibat meredanya konflik geopolitik memang dapat memberikan ruang bagi stabilisasi pasar keuangan. Namun, penguatan rupiah dalam jangka menengah tetap bergantung pada perbaikan faktor-faktor domestik yang memengaruhi persepsi risiko Indonesia di mata investor.

Artikel Terkait