Fakta Pendidikan

Dampak Ozon: 40% Populasi Global Terpapar pada 2026, Asia Terkena Imbas Terbesar

Sekitar 40 persen penduduk dunia diperkirakan akan terpapar ozon dalam jumlah tinggi pada tahun 2026, dengan Asia sebagai wilayah yang paling terdampak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa polusi uda...

N
Narayana Putra
02 November 2026
1 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN/Pesawat komersial bersiap melakukan penerbangan di tengah polusi asap di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (4/10/2023).
Foto: ANTARA FOTO/AULIYA RAHMAN/Pesawat komersial bersiap melakukan penerbangan di tengah polusi asap di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (4/10/2023).

Lapisan ozon berada di ketinggian antara 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan Bumi, tepatnya di stratosfer. Ozon, yang terdiri dari gas O3, memiliki konsentrasi tinggi dan terbentuk melalui reaksi oksigen yang terpengaruh oleh aliran listrik, seperti petir, serta sinar ultraviolet dari Matahari. Selain proses alami, ozon juga dapat terbentuk di dekat permukaan tanah akibat polusi dari kendaraan, pabrik, dan sumber lainnya yang bereaksi di bawah sinar matahari.

Menurut analisis terbaru dari Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus (CAMS), diperkirakan bahwa sekitar 40 persen populasi Bumi akan menghirup ozon dalam jumlah yang signifikan pada tahun 2026, dengan Asia menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Direktur CAMS, Laurence Rouil, mengungkapkan bahwa tahun ini terdapat kejutan dengan meningkatnya polusi secara bersamaan. "Temuan yang paling mencolok adalah bahwa lebih dari setengah populasi dunia masih terpapar tingkat polusi udara yang tidak sehat," katanya.

Kontributor Ozon di Atmosfer Bumi

CAMS menggunakan data satelit dan pengukuran lapangan untuk melaporkan bahwa tidak ada elemen yang secara langsung memancarkan ozon dari permukaan tanah. Mereka mengukur ozon dengan mencatat tingkat tertinggi selama 8 jam per hari dan mengambil rata-rata dari data enam bulan yang menunjukkan jumlah ozon terburuk. Pedoman dari World Health Organization (WHO) menetapkan batas aman sebesar 60 mikrogram per meter kubik, sementara CAMS menyatakan bahwa kualitas udara menjadi sangat buruk jika jumlah ozon melebihi 110 mikrogram per meter kubik.

Salah satu penyebab utama meningkatnya kadar ozon adalah nitrogen oksida dari asap kendaraan yang berinteraksi dengan uap organik dari berbagai sumber, termasuk lalu lintas, industri, dan kebakaran hutan. Cuaca panas yang ekstrem juga mempercepat reaksi ini, memungkinkan gas ozon terakumulasi di dekat permukaan tanah selama beberapa hari hingga beberapa minggu di lapisan yang lebih tinggi.

Asia Menghadapi Kualitas Udara Buruk

Di Asia, enam dari sepuluh orang terpapar ozon dalam tingkat yang sangat buruk, sementara sembilan dari sepuluh orang mengalami kualitas udara yang dinilai buruk. Asap dari kebakaran hutan, seperti yang terjadi di Kalimantan, Indonesia, akibat fenomena El Niño, menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kadar partikel halus di udara. Di Eropa, meskipun telah ada kebijakan untuk mengurangi polutan, gelombang panas yang berulang membuat separuh penduduknya juga terpapar udara yang buruk.

Pada 22 Juli, kebakaran di Gironde dan Landes, Prancis, memaksa sekitar 40.000 orang mengungsi akibat pencemaran udara yang meluas hingga ratusan mil dari titik api.

Strategi Menghadapi Ozon dalam Kehidupan Sehari-hari

Rouil menyatakan bahwa solusi untuk menghadapi tingginya kadar ozon dapat dilihat dari kebijakan yang telah diterapkan di Eropa selama beberapa dekade. Beberapa zat yang diatur untuk pengurangan termasuk sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan partikel halus. Saat ini, prakiraan ozon dapat diakses publik dengan akurasi yang cukup baik, memungkinkan masyarakat untuk mengambil langkah mitigasi sebelum kadar ozon mencapai ambang batas yang berbahaya.

WHO merekomendasikan agar masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan yang berkepanjangan atau intens, terutama pada siang hari. Selain itu, anak-anak, lansia, dan orang dengan masalah pernapasan atau kardiovaskular disarankan untuk mengambil tindakan pencegahan tambahan.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait