Jakarta - David Cheriton, seorang akademisi yang pernah mengajar di Universitas Stanford, memiliki kekayaan fantastis yang mencapai USD 10,5 miliar (sekitar Rp 188 triliun), menurut laporan Forbes. Kekayaan tersebut bukan diperoleh dari aktivitas mengajar, melainkan dari investasi awalnya di Google.
Cheriton, yang lahir di Kanada, awalnya memiliki ketertarikan di bidang musik, namun ia ditolak saat mencoba masuk ke program musik di Universitas Alberta. Ia kemudian beralih ke bidang matematika dan ilmu komputer, menyelesaikan studi sarjananya di Universitas British Columbia, sebelum meraih gelar master dan PhD di Universitas Waterloo.
Awal Karier dan Investasi Cerdas
Pada tahun 1981, Cheriton datang ke Stanford untuk mencari dana penelitian. Di masa itu, Stanford mulai berkembang menjadi pusat inovasi Silicon Valley. Di sana, ia bertemu dengan Andy Bechtolsheim, seorang mahasiswa doktoral asal Jerman yang sangat berbakat dan sering mengutak-atik komputer workstation. Bechtolsheim kemudian mendirikan Sun Microsystems pada tahun 1982.
Sementara itu, Cheriton melanjutkan karier akademisnya hingga tahun 1990-an. Ketika mereka bertemu kembali, Cheriton dan Bechtolsheim melakukan investasi yang sangat menguntungkan, yaitu masing-masing menanamkan USD 100.000 kepada para pendiri Google. Selain itu, Cheriton juga berinvestasi di berbagai perusahaan lain, termasuk Kealia dan Arista Networks, yang melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) pada tahun 2014.
Kekayaan dan Gaya Hidup Sederhana
Dengan kekayaannya yang melimpah, Cheriton kini memiliki kekayaan bersih sekitar USD 10,5 miliar atau setara dengan Rp 188 triliun (berdasarkan kurs Rp 17.920 per USD). Meskipun memiliki kecerdasan dan kekayaan yang luar biasa, Cheriton tidak pernah membayangkan hidupnya akan seperti ini. Ia berusaha menjaga kehidupannya tetap sederhana.
"Beberapa hal dalam hidup, seperti kekayaan bersih, tidak direncanakan," ujarnya. "Beberapa investasi berhasil, dan beberapa tidak," tambahnya.
Walaupun memiliki kekayaan yang besar, Cheriton tidak menghabiskan uangnya untuk membeli mobil mewah atau menjalani gaya hidup yang berlebihan. Ia tetap tinggal di rumah yang sama selama 40 tahun dan mengendarai mobil tua keluaran 1986. Bahkan, ia memilih untuk memotong rambutnya sendiri. "Bukannya saya tidak bisa membayangkan potong rambut. Hanya saja lebih mudah melakukannya sendiri dan membutuhkan waktu lebih sedikit," jelasnya.
Dengan kekayaannya, Cheriton juga aktif memberikan kontribusi kepada Universitas British Columbia dan Stanford untuk mendanai beasiswa dan penelitian. Sejak sepuluh tahun terakhir, ia telah berhenti dari pekerjaan mengajar dan lebih fokus pada usaha pribadi serta kegiatan filantropi, termasuk sebagai kepala ilmuwan di sektor teknologi.