Fakta Pendidikan

Francis Halzen Terima Nobel Fisika 2026 atas Penemuan Partikel 'Hantu' di Kutub Selatan

Francis Halzen, seorang fisikawan partikel Belgia-Amerika, dianugerahi Nobel Fisika 2026 oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia atas penelitiannya mengenai neutrino, partikel yang dikenal sebagai 'parti...

S
Stevani Nila Wardana
07 October 2026
27 pembaca
Ilustrasi Observatori IceCube, hasil penelitian Francis Halzen yang mendapatkan Nobel Prize Fisika 2026. Foto: © Johan Jarnestad/The Royal Swedish Academy of Sciences
Ilustrasi Observatori IceCube, hasil penelitian Francis Halzen yang mendapatkan Nobel Prize Fisika 2026. Foto: © Johan Jarnestad/The Royal Swedish Academy of Sciences

Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia telah resmi mengumumkan penerima Hadiah Nobel di bidang Fisika untuk tahun 2026. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada Francis Halzen, seorang fisikawan partikel yang berasal dari Belgia dan Amerika Serikat.

Halzen lahir di Tienen, Belgia pada tahun 1944, dan saat ini menjabat sebagai profesor di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Ia juga merupakan Direktur Institut Fisika Partikel Dasar di universitas tersebut.

Penelitian Neutrino di Kutub Selatan

Hadiah Nobel Fisika 2026 ini diberikan kepada Halzen berkat penelitiannya yang inovatif dalam melacak neutrino, yang sering disebut sebagai 'partikel hantu'. Meskipun para ilmuwan sudah lama menyadari bahwa alam semesta memiliki akselerator partikel alami yang mampu memancarkan partikel dengan energi sangat tinggi, banyak dari partikel ini masih menyimpan misteri.

Neutrino dapat ditemukan di mana-mana, namun keberadaannya tidak dapat dilihat. Partikel ini dapat melintasi Bumi dan tubuh manusia tanpa terdeteksi, yang menjadi alasan mengapa ia disebut partikel hantu. Meskipun diciptakan di lingkungan yang sama dengan partikel lainnya, neutrino memiliki energi yang sangat tinggi dan jarang berinteraksi dengan inti atom, sehingga sulit untuk dideteksi.

Inovasi Observatorium IceCube

Halzen meyakini bahwa neutrino dapat memberikan wawasan baru mengenai peristiwa ekstrem yang terjadi di luar angkasa. Pada tahun 1998, ia mengusulkan ide untuk menangkap neutrino dengan menggunakan es di Kutub Selatan. Ia menanamkan sensor cahaya dalam es raksasa berukuran satu kilometer kubik yang dikenal dengan nama Observatorium IceCube. Pemilihan es sebagai media untuk menangkap neutrino didasarkan pada fakta bahwa ketika neutrino menabrak es, akan muncul kilatan cahaya kecil yang dapat dideteksi oleh sensor yang telah dipasang.

Observatorium IceCube mulai dibangun pada tahun 2011 dan berhasil mendeteksi neutrino berenergi tinggi pertama. Beberapa tahun setelah itu, para ilmuwan mengumumkan penemuan mereka mengenai neutrino yang berasal dari luar tata surya kita. Penemuan ini menandai awal pencarian sumber neutrino secara serius berdasarkan ide yang diajukan oleh Halzen.

Mark Pearce, Ketua Komite Nobel Fisika, memberikan penghargaan tinggi kepada Halzen, menyatakan bahwa ketekunannya telah membuka jalan bagi jenis astronomi baru. "Francis Halzen telah memimpin tim peneliti dan insinyur internasional yang telah memberi kita instrumen yang fantastis. Ketekunan dan visi ilmiahnya telah membuka jalan bagi jenis astronomi baru," ujarnya.

Saat ini, interaksi neutrino terus dikumpulkan oleh IceCube, yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru kepada peneliti tentang lingkungan ekstrem di mana neutrino berenergi tinggi terbentuk. Para ilmuwan bahkan memperkirakan bahwa neutrino dapat membantu mengungkap fenomena kosmik, seperti ledakan bintang yang sebelumnya tidak diketahui.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait