Jakarta - Orang tua seringkali meluangkan waktu untuk membantu anak-anak mereka berinteraksi dengan teman sebaya. Hal menarik juga ditemukan pada orang utan liar, di mana induk orang utan bersedia menempuh jarak yang lebih jauh dan mengurangi waktu makan demi memberikan kesempatan kepada anaknya untuk bermain dengan orang utan lainnya. Temuan ini berasal dari penelitian jangka panjang yang mengamati perilaku orang utan di hutan Indonesia.
Studi ini menunjukkan bahwa meskipun orang utan cenderung hidup sendiri, induk tetap berusaha untuk menyediakan kesempatan bagi anaknya agar dapat bersosialisasi. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dengan judul "Maternal ranging strategies facilitate offspring social play at energetic cost in the most solitary ape."
Anak Orang Utan Jarang Memiliki Teman Bermain
Induk orang utan di Kalimantan umumnya hidup terpisah bersama anak-anak mereka yang masih bergantung. Jarak kelahiran antar anak rata-rata mencapai 7,6 tahun, sehingga anak orang utan jarang memiliki saudara kandung yang seusia untuk diajak bermain. Hal ini membatasi kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan orang utan lain, padahal bermain sangat penting untuk melatih gerakan tubuh dan mengajarkan cara berinteraksi dengan individu lain.
Dr Odd Jacobson, penulis utama penelitian dari Max Planck Institute of Animal Behavior (MPI-AB), menjelaskan bahwa tantangan ini berbeda dengan spesies yang hidup dalam kelompok, di mana anak-anak lebih mudah menemukan teman bermain. "Dalam banyak spesies sosial, teman bermain datang secara alami karena mereka hidup berkelompok," ungkap Jacobson.
Menurutnya, masalah muncul ketika induk orang utan menghabiskan sebagian besar waktu mereka sendirian dengan satu anak dan jarang bertemu dengan keluarga lain untuk mencari makan, bersosialisasi, atau mendapatkan perlindungan.
Pola Pergerakan Induk Orang Utan
Untuk memahami bagaimana anak orang utan menemukan teman bermain, para peneliti menganalisis lebih dari 32.600 jam pengamatan di Stasiun Penelitian Tuanan, Indonesia, antara tahun 2003 hingga 2018, yang mencakup 31 anak orang utan dan 14 induknya. Para pengamat mencatat lokasi dan aktivitas orang utan sepanjang hari, dan data tersebut dianalisis dengan metode statistik yang menggabungkan pola penggunaan ruang oleh induk dengan karakteristik sosial keluarga orang utan di sekitarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang usianya berdekatan lebih sering bermain bersama, dan induk mereka menghabiskan lebih banyak waktu di area hutan yang sama. Pola ini tetap terlihat meskipun hubungan kekerabatan dan ketersediaan buah sebagai sumber makanan diperhitungkan. "Para induk tampaknya mencocokkan anak-anak mereka dengan teman bermain yang sesuai secara fisik dan tahap perkembangannya," jelas Jacobson.
Namun, para peneliti tidak menemukan bukti yang jelas bahwa induk mengubah batas wilayah hutan yang biasa mereka gunakan. Kesempatan anak orang utan untuk bermain bersama ternyata relatif jarang, hanya terjadi pada 6,32% hari ketika mereka diikuti dari pagi hingga sore. Sebagian besar kesempatan bermain muncul saat induk bertemu dengan kerabatnya, dan aktivitas ini lebih mungkin terjadi ketika buah tersedia dalam jumlah banyak.
Dr Maria van Noordwijk, penulis senior penelitian, menambahkan bahwa orang utan dewasa biasanya tidak terlalu dekat satu sama lain. Namun, ketika anak-anak bertemu, perilaku mereka menjadi sangat aktif. "Mereka langsung mendekat satu sama lain, bermain kasar, menggigit, dan bergulat. Anak orang utan seolah memiliki 'tombol bermain' yang hanya bisa dimatikan oleh induknya ketika memutuskan untuk beralih ke aktivitas lain," kata van Noordwijk dari Departemen Antropologi Evolusioner, University of Zurich, Swiss.
Penelitian juga menemukan pola menarik dalam pergerakan induk. Sehari sebelum anak-anak mereka bermain, induk cenderung bergerak menuju lokasi yang sering digunakan oleh keluarga lain. Setelah sesi bermain selesai, mereka kembali ke pusat wilayah yang biasa ditempati. Pola ini menunjukkan bahwa induk mungkin menyesuaikan pergerakannya untuk meningkatkan peluang bertemu dengan induk lain yang memiliki anak seusia.
Van Noordwijk menambahkan bahwa orang utan telah lama diketahui mampu menggunakan navigasi spasial dan merencanakan rute untuk menemukan sumber makanan. Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut juga digunakan untuk mencari kesempatan bersosialisasi bagi anak-anak mereka. "Sekarang kami menunjukkan bahwa mereka menggabungkan peta kognitif, bukan hanya untuk mencari makanan, tetapi juga untuk menemukan sumber daya sosial demi memenuhi kebutuhan anak-anak mereka," ujarnya.
Van Noordwijk menyebut pengetahuan orang utan mengenai individu lain di sekitarnya sebagai semacam "gosip hutan". Meskipun hidup menyendiri, orang utan diduga mengenali tetangga yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun, termasuk mengetahui kapan tetangga tersebut memiliki anak. Dari posisi mereka di pepohonan, orang utan juga mungkin dapat memperkirakan lokasi tetangga pada waktu-waktu tertentu.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa pola pergerakan tersebut belum membuktikan bahwa induk secara sadar merencanakan pertemuan bermain. Penelitian ini mengamati perilaku dan pergerakan, bukan menguji secara langsung niat induk orang utan.
Konsekuensi dari Upaya Induk Orang Utan
Upaya untuk menyediakan teman bermain ternyata memiliki konsekuensi bagi induk orang utan. Pada hari ketika anaknya bermain, induk cenderung menempuh perjalanan lebih jauh dan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk makan. Pola ini terlihat bahkan ketika dibandingkan dengan hari-hari di mana induk bertemu orang utan lain, tetapi anak-anak mereka tidak bermain. Van Noordwijk menyebut temuan ini mengungkap biaya tersembunyi dari kehidupan soliter. Selain menyediakan makanan dan menjaga keselamatan anak, induk juga perlu menyediakan kesempatan bagi anaknya untuk bersosialisasi.
Meski demikian, penelitian ini tidak mengukur secara langsung jumlah kalori yang dibakar induk atau banyaknya makanan yang dikonsumsi. Perjalanan lebih jauh dan berkurangnya waktu makan menjadi petunjuk adanya kemungkinan biaya energi, tetapi besarnya biaya tersebut belum diketahui. Walaupun penelitian menunjukkan induk berupaya menyediakan kesempatan bermain bagi anaknya, manfaat jangka panjang dari perilaku tersebut masih belum dapat dipastikan.
Dr Sri Suci Utami Atmoko dari Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional, Jakarta, yang juga terlibat dalam penelitian ini, menyoroti pertanyaan yang belum terjawab. Studi ini melibatkan 14 induk orang utan, tetapi tidak menguji apakah anak yang lebih sering bermain memiliki keterampilan sosial yang lebih baik atau peluang bertahan hidup yang lebih tinggi. "Kita masih belum tahu apakah waktu dan energi yang dihabiskan para ibu untuk mengatur kesempatan bermain bersama anak-anak mereka memberikan keuntungan bagi anak orang utan di kemudian hari," kata Sri. Ia menekankan pentingnya penelitian jangka panjang untuk memahami hubungan antara perilaku, perkembangan, lingkungan, dan dinamika populasi pada spesies berumur panjang seperti orang utan.