Fakta Pendidikan

Jejak Guruh Sukarno Putra dalam Mendorong Budaya Kebaya di Kalangan Remaja

Guruh Irianto Sukarno Putra, putra bungsu presiden pertama Indonesia, meninggal dunia pada 26 September 2026. Ia dikenal melalui Swara Maharddhika yang menjadi pelopor pentas seni di kalangan anak mud...

W
Wira Yudha
26 September 2026
36 pembaca
Foto: Buku
Foto: Buku

Jakarta - Guruh Irianto Sukarno Putra, anak bungsu dari mendiang presiden pertama Indonesia, Sukarno, meninggal dunia pada hari Sabtu, 26 September 2026. Warisannya dalam memberdayakan generasi muda melalui Swara Maharddhika telah menjadikannya sebagai trend setter dalam dunia pentas seni di kalangan pelajar SMP dan SMA.

Pada tahun 1980-an, tepatnya pada 15-16 Juli 1987, pagelaran kolosal bertajuk Gempita Swara Maharddhika diadakan di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Pertunjukan ini menjadi momen penting untuk merayakan 10 tahun berdirinya Swara Maharddhika yang didirikan pada tahun 1977. Menurut buku "100 Konser Musik di Indonesia" yang ditulis oleh Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M Dahlan, acara tersebut menampilkan beragam jenis seni, mulai dari tari, drama, musik, hingga suara.

Dengan kostum yang mencolok dan gerakan yang dinamis, pertunjukan ini menghadirkan nuansa seperti Broadway dan berhasil menarik perhatian generasi muda. Seiring waktu, Guruh mengembangkan Swara Maharddhika dari kelompok model vokal kecil menjadi kelompok seni pertunjukan yang mampu menarik banyak penonton.

Transformasi Budaya Populer di Kalangan Remaja

Keunikan dari pertunjukan Swara Maharddhika terletak pada penampilan kolosal yang energik, tarian yang lincah, serta kostum yang meriah. Lagu-lagu karya Guruh yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari cinta hingga kritik sosial, menjadi bagian tak terpisahkan dari pertunjukan tersebut. Di era 70-80-an, menjadi bagian dari Swara Maharddhika adalah sebuah kebanggaan bagi remaja, dan banyak di antara mereka yang kini menjadi seniman terkenal seperti Marissa Haque dan Soraya Haque.

Soraya Haque mengungkapkan, "Guruh Sukarno Putra dan Swara Maharddhika menjadi awal dari perjalanan kebangsaan saya, sejak usia 14 tahun. Di sanalah saya mulai mengenal Indonesia, melalui gerak tari, lantunan lagu, dan panggung-panggung besar yang menempa jiwa remaja."

Salah satu alumni yang terkenal adalah Denny Malik, seorang koreografer dan penyanyi yang terkenal di era 80-an dengan lagu "Jalan Sore". Lagu-lagu yang ditulis oleh Guruh juga menjadi ikonik dan dinyanyikan oleh penyanyi ternama seperti Vina Panduwinata dan Chrisye. Sejak kehadiran Swara Maharddhika, banyak pentas seni di sekolah-sekolah yang mengadopsi konsep pertunjukan yang serupa.

Kampanye Kebaya sebagai Identitas Nasional

Dalam setiap pertunjukannya, Guruh juga menyampaikan idealismenya, salah satunya dengan mengkampanyekan kebaya sebagai busana nasional. Ia menyadari bahwa minat remaja terhadap kebaya mulai memudar, tergerus oleh tren fashion barat seperti jeans dan kaus. Oleh karena itu, dalam pagelaran kolosal yang merayakan 10 tahun Swara Maharddhika, Guruh mendesain sendiri kebaya yang dikenakan oleh para penampil.

Guruh berharap kebaya dapat menjadi identitas nasional yang tidak hanya dikenakan dalam acara formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi, idealisme Guruh telah mulai terwujud, terutama setelah ditetapkannya Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2023 melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023.

Swara Maharddhika sendiri dibubarkan pada tahun 1987, dan Guruh mendirikan GSP pada tahun 1989 sebagai penggantinya. Namun, pengaruhnya dalam memberdayakan generasi muda dan menjadi trend setter dalam dunia seni pertunjukan tetap dikenang hingga saat ini.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait