Jakarta - Tinggal di kos biasanya menjadi hal yang umum bagi mahasiswa yang belajar di luar kota. Namun, bagaimana jika seorang siswa kelas 2 SMP harus menjalani hidup sendiri di kos? Itulah yang dialami oleh Nasyarudin Maulo, yang akrab disapa Aji. Di usianya yang baru 14 tahun, Aji harus tinggal sendiri di kos dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Kehidupan Mandiri Sejak Dini
Sebelum tinggal di kos, Aji bersama orang tuanya. Namun, keadaan keluarga memaksa orang tuanya untuk berpisah tempat tinggal. Ayahnya yang sakit harus kembali ke kampung halamannya di Lahakaba, Maluku Tengah, sementara kakaknya pergi merantau. Saat ini, ibunya tinggal bersama adik Aji dan bekerja sebagai juru masak. Aji awalnya bersekolah di SMPN 52, tetapi kemudian dipindahkan ke SMPN 38, sehingga ia harus tinggal di kos.
Meski masih membutuhkan perhatian orang tua, Aji telah menunjukkan kemandirian yang luar biasa. Ia mengurus makanannya sendiri, mencuci pakaiannya, dan melakukan berbagai hal lainnya tanpa bergantung pada orang tua.
Mencari Penghasilan untuk Biaya Hidup
Aji telah tinggal di kos sejak semester kedua kelas 1. Ia mengungkapkan bahwa uang yang dikirim oleh ibunya seringkali tidak menentu. Karena itu, Aji terpaksa bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ia kadang bekerja sebagai kuli bangunan atau mencari ikan.
"Ibu kirim uang tak tentu, setiap kirim uang sekitar Rp 100 ribu. Kalau saya kekurangan uang, saya terpaksa bekerja, kadang sebagai kuli bangunan, kadang mencari ikan di laut dengan terpaksa harus berbolos sekolah, sering juga saya makan hanya dengan nasi ditambah bumbu penyedap," kata Aji.
Aji biasanya mendapatkan upah sekitar Rp 100 ribu saat bekerja sebagai kuli bangunan dan Rp 50 ribu ketika menangkap ikan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia sering kali harus membolos sekolah. "Dalam seminggu, saya bolos kadang-kadang 1 hari atau dua hari," tambahnya. Meskipun demikian, Aji tetap berusaha mengejar ketertinggalan pelajaran. Wali kelasnya, Kotje Novaria, memahami situasinya dan menyebutkan bahwa Aji menghabiskan waktu malam untuk belajar.
Usaha Mendapatkan Bantuan Pendidikan
Dengan kondisi yang dihadapinya dan status ekonomi yang termasuk dalam desil 1-5, Aji berhak mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, penyaluran PIP sempat terhambat karena Aji pindah sekolah. "Berdasarkan penelusuran kami, keluarga Aji masuk dalam desil 1-5 yang artinya layak menerima PIP, kami saat ini sedang melakukan proses pengusulan," ujar operator PIP di SMPN 38 Maluku Tengah, David Talakua.
Sebelumnya, Aji juga pernah menerima PIP saat di kelas 4-6 SD. Kini, ia menunggu bantuan tersebut untuk meringankan beban hidupnya. "Saat di SD, saya memang menerima PIP yang uangnya saya gunakan untuk membeli baju seragam, tas dan perlengkapan untuk belajar," ungkapnya.
David menambahkan bahwa pihaknya sedang mengurus bantuan untuk Aji, tetapi harus menunggu persetujuan dari dinas pendidikan setempat. "Kami saat ini sedang mengurusnya dan menyusul adanya informasi PIP Aji sudah disalurkan pada Juni lalu sementara ATM dan buku rekening Aji dibawa ibunya yang jauh, maka kami putuskan membuat surat kehilangan buku tabungan ke polisi dan selanjutnya mengajukan pergantian buku tabungan ke BRI," jelas David.
Di Dapodik, lebih banyak yang dicentang 'Layak PIP', namun dinas pendidikan hanya menetapkan sekitar 130-140 murid untuk menerima bantuan tersebut.