Fakta Pendidikan

Kronologi Peristiwa G30S PKI 1965: Dari Penculikan Hingga Gugurnya Tujuh Jenderal

Peristiwa malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 merupakan salah satu momen kelam dalam sejarah Indonesia, di mana terjadi kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mengakibatka...

P
Panca Akbar Saputra
29 September 2026
32 pembaca
Kronologi G30S PKI. Foto: Zaki Alfarabi/detikcom
Kronologi G30S PKI. Foto: Zaki Alfarabi/detikcom

Jakarta - Malam antara 30 September dan 1 Oktober 1965 menjadi salah satu peristiwa yang paling kelam dalam sejarah Indonesia. Pada malam itu, Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan pemberontakan yang berujung pada kudeta dan pertumpahan darah, mengakibatkan tujuh jenderal Indonesia gugur. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 PKI (G30S PKI). Menurut buku Modul Pembelajaran Sejarah Indonesia Kelas XII yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020, Dipa Nusantara Aidit, sebagai Ketua Central Committee (CC) PKI, dianggap sebagai sosok yang bertanggung jawab atas tragedi ini.

Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa Indonesia akan mengadopsi sistem demokrasi terpimpin. Sejak saat itu, PKI mulai mendominasi berbagai aspek kehidupan dan berambisi untuk mendirikan pemerintahan komunis yang terinspirasi oleh Republik Rakyat Cina. Namun, rencana tersebut tidak berhasil direalisasikan, meskipun PKI merupakan partai besar keempat di Indonesia pada tahun 1965. PKI kemudian menyebarkan isu bahwa ada dewan jenderal di tubuh TNI Angkatan Darat yang berencana melakukan kudeta, yang memicu berbagai pemberontakan hingga puncaknya pada 30 September 1965.

Aksi Penculikan

Menjelang kudeta 1965, PKI semakin gencar melakukan propaganda untuk memperkuat pengaruhnya. Propaganda ini mulai terasa sejak Juli 1960, di mana PKI melontarkan kritik tajam terhadap tentara dan kabinet. Ketegangan meningkat ketika Sukarno dilaporkan jatuh sakit pada Juli 1965. DN Aidit bahkan membawa tim dokter dari Tiongkok untuk memeriksa kesehatan Sukarno, dan hasilnya menunjukkan bahwa kondisi Sukarno memburuk.

Dengan situasi yang mendesak, PKI mengambil langkah cepat. Pada 28 September 1965, mereka mengadakan rapat penting dan memutuskan untuk bergerak. Menurut Prof Dr Sutan Remy Sjahdeini dalam bukunya, gerakan tersebut dilakukan pada malam hari, tepatnya 30 September 1965, untuk merebut kekuasaan di Indonesia. Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, Letnan Kolonel Untung, memerintahkan untuk menangkap tujuh jenderal, yang terdiri dari:

  • Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani
  • Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Raden Soeprapto
  • Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman
  • Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono
  • Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan
  • Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
  • Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andreas Tendean

Penculikan dilakukan dengan mendatangi rumah masing-masing jenderal. Namun, Pierre Andreas Tendean, yang merupakan ajudan Jenderal TNI Abdul Harris Nasution, mengalami situasi berbeda. Ketika PKI datang, Pierre berusaha melindungi atasannya dan mengaku sebagai Jenderal Nasution. Meskipun dikepung dan ditodong senjata, ia tetap dibawa oleh pasukan PKI yang mengaku sebagai pengawal Istana.

Gugurnya Tujuh Jenderal

Setelah dibawa ke markas di Pondok Gede, Jakarta Timur, para jenderal tidak bertemu dengan Presiden Sukarno. Sebaliknya, R Soeprapto, Sutoyo Siswomiharjo, S Parman, dan Pierre Andreas Tendean disiksa dan dibunuh secara brutal. Jenazah mereka kemudian dibuang ke dalam sebuah sumur tua yang dikenal sebagai Lubang Buaya.

Tiga jenderal lainnya, Ahmad Yani, MT Haryono, dan DI Pandjaitan, juga mengalami nasib tragis, ditembak mati di rumah masing-masing, dan jenazah mereka pun dibawa ke markas yang sama. Jenderal TNI AH Nasution, yang menjadi target utama, berhasil selamat, namun putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, tewas dalam upaya pembunuhan tersebut.

Ade Irma Suryani, yang sedang digendong oleh ibunya saat serangan terjadi, terkena tembakan saat berusaha melindungi ayahnya. Meskipun dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Ade Irma meninggal dunia pada 6 Oktober 1965 setelah lima hari dirawat.

Pasca Kejadian G30S PKI

Keesokan harinya, Letkol Untung mengumumkan pembentukan "Dewan Revolusi" melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI), mengklaim bahwa PKI telah menguasai sejumlah titik strategis di Jakarta. Namun, perlawanan dari pemerintah Indonesia segera dilakukan. Pada sore 1 Oktober 1965, operasi penumpasan G30S PKI dilaksanakan oleh Pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Mereka berhasil merebut kembali lokasi-lokasi strategis yang sebelumnya dikuasai oleh PKI dan menemukan markas utama G30S PKI di Halim Perdanakusuma. Setelah penyelidikan, sumur tempat jenazah para jenderal ditemukan. Sejumlah operasi penumpasan dilakukan di berbagai daerah, termasuk Operasi Trisula di Blitar Selatan dan Operasi Kikis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam operasi tersebut, banyak tokoh PKI yang ditangkap, termasuk DN Aidit yang ditemukan tewas.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait