Fakta Pendidikan

Rekomendasi Buku Pilihan Pustakawan Harvard: Dari Hamnet hingga How to Winter

Membaca buku adalah cara yang baik untuk mengisi waktu luang dan memperluas pengetahuan. Harvard Library telah merilis daftar buku rekomendasi dari pustakawan dan stafnya, mencakup berbagai genre.

U
Ulam Kirana
09 October 2026
25 pembaca
Baker Library salah satu perpustakaan milik Harvard University Foto: Getty Images/iStockphoto/APCortizasJr
Baker Library salah satu perpustakaan milik Harvard University Foto: Getty Images/iStockphoto/APCortizasJr

Jakarta - Aktivitas membaca buku bisa menjadi alternatif menarik untuk mengisi waktu luang serta menambah wawasan. Dengan beragam genre yang tersedia, pembaca dapat memilih bacaan sesuai dengan minat mereka, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Melalui Harvard Gazette, Harvard Library membagikan beberapa rekomendasi buku dari pustakawan dan stafnya. Daftar ini terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu fiksi, fiksi ilmiah dan fantasi, serta nonfiksi.

Salah satu buku yang termasuk dalam kategori fiksi adalah Hamnet karya Maggie O'Farrell, yang telah diadaptasi menjadi film. Di sisi lain, kategori nonfiksi menghadirkan How to Winter karya Kari Leibowitz, yang membahas tentang cara mengubah perspektif terhadap musim dingin. Selain kedua judul tersebut, ada banyak buku lain yang juga direkomendasikan oleh pustakawan Harvard. Berikut adalah daftar lengkapnya.

Sains Fiksi dan Fantasi

1. All Systems Red oleh Martha Wells

Buku ini adalah novel fiksi ilmiah yang mengisahkan tentang android pembunuh yang mulai mencari identitas dirinya. Cerita berlangsung di masa depan di mana perusahaan-perusahaan besar menguasai perjalanan antariksa, dan setiap tim penjelajah dilindungi oleh android keamanan dari perusahaan. Namun, karena kontrak diberikan kepada penawar terendah, keselamatan bukanlah prioritas. Di sebuah planet jauh, para ilmuwan dikawal oleh SecUnit yang menyadari dirinya sendiri dan telah meretas modul pengendali. Ia menamakan dirinya "Murderbot", meremehkan manusia, dan hanya ingin dibiarkan sendiri. Namun, ketika misi di dekatnya kehilangan kontak, ia dan para ilmuwan harus mencari tahu apa yang terjadi. Buku ini pernah dinominasikan sebagai Readers' Favorite Science Fiction pada 2017 di Goodreads Choice Awards.

2. The Final System oleh Anthony Tardiff

Novel ini berlatar belakang masa depan setelah Cybercrash yang menghancurkan internet dan hampir melumpuhkan negara. Dari kehancuran tersebut lahirlah OverNet, sistem keamanan siber yang diciptakan oleh Dr. Andrew Norman, yang kini mengatur hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Jason Cromartie, seorang gamer, kehilangan saudara kembarnya akibat keputusan algoritma sistem tersebut. Dendamnya membawanya bergabung dengan kelompok peretas untuk menjatuhkan Norman. Sementara itu, Chloe Dunne-Carr, seorang politikus muda, menikmati manfaat OverNet meskipun menjadi salah satu penentang Norman yang paling vokal. Ia khawatir tentang dunia tempat putrinya tumbuh yang semakin kehilangan sisi kemanusiaannya. Ketika Norman memperkenalkan kecerdasan buatan umum bernama Final System, Jason dan Chloe terjebak dalam permainan besar antara manusia dan teknologi. Novel ini menyoroti batas tipis antara manusia dan mesin.

3. The Tapestry of Fate oleh Shannon Chakraborty

Amina al-Sirafi, seorang bajak laut yang berburu benda-benda gaib untuk dewan peri abadi, berusaha untuk tetap pulang dan membesarkan putrinya, Marjana. Namun, ketika Raksh, roh perselisihan yang mengikat Amina dalam pernikahan, memicu kemarahan dewan, Amina dipaksa menjalani misi yang hampir mustahil. Ia harus mencuri sebuah gelendong pemintal pengubah takdir dari penyihir misterius di pulau yang tidak bisa ditinggali siapapun. Dalam perjalanannya, Amina menghadapi badai mematikan, musuh lama, dan kenyataan bahwa kisah para peri mulai terurai, mengungkapkan permainan berbahaya melawan lawan yang lebih licik dan kuat.

4. I, Medusa karya Ayana Gray

Buku ini mengisahkan Meddy, putri dua dewa kelas bawah yang merasa terpinggirkan di samping saudara-saudarinya yang cantik dan abadi. Ketika Dewi Athena mengundangnya berlatih menjadi pendeta di kuilnya, Meddy berkembang pesat. Namun, masa depannya berubah drastis setelah menarik perhatian Poseidon, yang menghukumnya dengan mengubah rambutnya menjadi ular. Alih-alih menjadi korban, Medusa memilih untuk membela keadilan dan menulis kisahnya sendiri, menggambarkan perjuangan perempuan di antara keinginan dan permainan kejam para dewa Olympus.

Nonfiksi

1. Waiting on the Moon oleh Peter Wolf

Memoar ini berisi kisah dan pengamatan Peter Wolf tentang sejumlah seniman, musisi, aktor, dan tokoh budaya yang pernah ditemuinya, seperti John Lee Hooker dan Bob Dylan. Dengan potret yang tajam, ia menunjukkan sisi manusiawi para legenda yang sering dipandang sepihak oleh publik.

2. This Is Not a Book About Benedict Cumberbatch oleh Tabitha Carvan

Buku ini adalah memoar yang jenaka dan menyentuh tentang obsesi seorang perempuan paruh baya terhadap aktor Benedict Cumberbatch. Carvan, yang baru menjadi ibu dengan dua anak kecil, terkejut oleh kekuatan perasaannya. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar tentang Cumberbatch, tetapi tentang menemukan kembali gairah hidup setelah kehilangan jati diri. Buku ini mengajak pembaca menjelajahi dunia penggemar dan kekuatan dalam menemukan "hal" yang kita cintai.

3. Of Thorn & Briar: A Year with the West Country Hedgelayer oleh Paul Lamb

Buku ini menggambarkan kehidupan seorang hedgelayer, pekerja yang merawat dan menganyam kembali pagar tanaman tradisional di pedesaan Inggris. Dari akhir musim panas hingga burung mulai bersarang di musim semi, Lamb bekerja sendirian dan tinggal di dalam gerobak seperti pekerja tani keliling zaman dulu. Buku ini menyoroti pentingnya keterampilan dan menjaga warisan bagi generasi mendatang.

4. How to Winter oleh Kari Leibowitz

Ditulis oleh seorang psikolog, buku ini menggunakan sains pola pikir untuk mengubah cara pandang terhadap musim dingin, dari sesuatu yang harus ditahan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Ditujukan bagi mereka yang tidak menyukai hari-hari gelap dan dingin, Leibowitz berpendapat bahwa cara pandang ini dapat memengaruhi kesejahteraan mental sepanjang tahun. Dengan riset psikologi dan contoh budaya dari berbagai negara, buku ini menawarkan langkah konkret agar musim dingin terasa menyenangkan.

Fiksi

1. Barkskins oleh Annie Proulx

Novel ini berlatar akhir abad ke-17 dan menceritakan dua pemuda Prancis, René Sel dan Charles Duquet, yang tiba di Prancis Baru. Mereka terikat kontrak selama tiga tahun dengan seorang tuan tanah untuk bekerja sebagai penebang kayu. René mengalami kesulitan dan tertekan oleh hutan yang harus dibukanya, sementara Duquet yang licik melarikan diri dan membangun bisnis kayu. Novel ini mengikuti keturunan mereka selama tiga abad, menggambarkan kondisi brutal dan ancaman keruntuhan ekologi yang dihadapi generasi masa kini.

2. Playground oleh Richard Powers

Buku ini mengisahkan empat orang yang hidupnya saling bersinggungan. Evie Beaulieu, gadis 12 tahun, menyelam ke dasar kolam renang di Montreal, sementara Ina Aroita tumbuh berpindah-pindah di pangkalan angkatan laut. Dua remaja, Rafi Young dan Todd Keane, terhubung lewat permainan papan kuno. Keempatnya bertemu di Makatea, pulau yang kini dipilih untuk proyek kota-kota terapung otonom di laut lepas. Novel ini mengeksplorasi tema teknologi, lingkungan, dan kemanusiaan.

3. Hamnet oleh Maggie O'Farrell

Novel ini terinspirasi oleh kisah yang jarang diketahui di balik salah satu lakon paling misterius karya Shakespeare. Berlatar di Warwickshire pada 1580-an, cerita ini mengisahkan Agnes, perempuan yang ditakuti karena kemampuannya yang luar biasa. Hamnet, salah satu anaknya, meninggal pada usia sebelas tahun, dan beberapa tahun kemudian, suaminya menulis lakon berjudul Hamlet. Buku ini menggambarkan duka orang tua yang kehilangan anak dan menjadi pembelaan bagi Agnes, sosok perempuan yang sering terabaikan dalam sejarah.

4. The Stranger's Child oleh Alan Hollinghurst

Dalam novel ini, sebuah puisi yang ditulis dalam buku autograf mengubah hidup banyak orang. Puisi itu ditulis oleh Cecil Valance, seorang penyair muda, saat menginap di rumah sahabat kuliahnya pada tahun 1913. Setelah Cecil gugur dalam Perang Dunia I, puisinya menjadi legenda cinta tragis. Beberapa dekade kemudian, seorang biografer berambisi berusaha membongkar rahasia yang tersimpan.

Demikianlah sejumlah rekomendasi dari Harvard Library. Apakah Anda tertarik untuk mulai membaca?

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait