Fakta Politik

SBY Apresiasi Penguatan Rupiah dan IHSG, Ucapkan Terima Kasih kepada Pemerintah Prabowo

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan kepuasannya atas penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir, serta mengapresiasi langkah pemerintah.

A
Amara Rukmana
11 June 2026
14 pembaca
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik kondisi nilai tukar rupiah dan IHSG yang menguat secara signifikan dalam dua hari terakhir, 9-10 Juni. (CNN Indonesia/ Tunggul)
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik kondisi nilai tukar rupiah dan IHSG yang menguat secara signifikan dalam dua hari terakhir, 9-10 Juni. (CNN Indonesia/ Tunggul)

Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut positif penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG yang terjadi dalam dua hari terakhir, yakni pada 9 dan 10 Juni. Pada Selasa (9/6), nilai tukar rupiah tercatat di Rp18.141 per dolar AS, dan kemudian menguat menjadi Rp17.912 per dolar AS pada perdagangan Rabu (10/6) pagi. Sementara itu, IHSG mengalami kenaikan sebesar 82,58 poin atau 1,44 persen, mencapai level 5.829 pada awal perdagangan pagi kemarin.

Apresiasi SBY terhadap Pemerintah

Dalam akun Twitter resminya, @SBYudhoyono, SBY mengungkapkan, "Selamat dan terima kasih untuk negara dan pemerintah. Semoga ini merupakan awal dan pertanda baik ~ "a good beginning".

SBY juga menekankan bahwa pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto masih memiliki sumber daya politik dan ekonomi yang memadai untuk menghadapi tekanan ekonomi saat ini. Ia percaya bahwa masih terdapat opsi dan solusi dari otoritas moneter dan fiskal yang dapat membantu menghentikan pelemahan yang terjadi pada rupiah dan IHSG secara beruntun.

Kebijakan Ekonomi yang Diperlukan

Menurut SBY, kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia, yang bersinergi dengan pemerintah, merupakan salah satu faktor penting dalam mengatasi penurunan nilai rupiah dan IHSG. "Kalau tidak, pelemahan saham dan mata uang kita bisa 'unstoppable'," ujarnya. Ia menambahkan bahwa faktor-faktor seperti situasi fiskal dan utang negara, serta persepsi pasar yang negatif, saling terkait dalam mempengaruhi kondisi ekonomi.

SBY berharap agar pemerintah terus melaksanakan langkah-langkah stabilisasi ekonomi, termasuk memperbaiki APBN dan mengendalikan utang. Ia juga menekankan pentingnya mencegah kenaikan harga barang dan jasa yang dapat berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, serta memulihkan kepercayaan investor.

SBY mengingatkan perlunya komunikasi yang lebih efektif agar kebijakan pemerintah dapat dipahami oleh masyarakat dan pasar, serta menghentikan spekulasi dan ketidakpastian. Ia juga menekankan pentingnya melindungi masyarakat yang paling terdampak oleh kondisi ekonomi, termasuk akibat dari kenaikan harga BBM.

"Saya tahu, karena kenyang dalam menangani tekanan ekonomi seperti ini ketika memimpin Indonesia dulu, semua ikhtiar pemerintah ini tentu memerlukan waktu," ungkapnya. Ia menekankan bahwa dukungan publik yang kuat sangat diperlukan, serta pentingnya dialog dan keragaman pandangan yang konstruktif untuk mencapai kebijakan yang tepat dan tindakan nyata yang serius.

Artikel Terkait