Jakarta - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana proses belajar mengajar di sekolah-sekolah pada zaman filsuf Yunani kuno? Baru-baru ini, sebuah penemuan menarik mengungkapkan jejak dari sekolah yang ada pada masa filsuf terkenal tersebut. Kementerian Kebudayaan Yunani mengumumkan penemuan aula-aula yang dihiasi mosaik di situs bersejarah kerajaan Mieza. Penggalian ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut diyakini sebagai tempat pendidikan awal Alexander Agung yang diajari oleh Aristoteles.
Aristoteles, yang hidup antara tahun 383 hingga 322 SM, adalah seorang filsuf terkemuka. Salah satu muridnya, Alexander Agung, dikenal sebagai raja dan penakluk yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia kuno. Dalam waktu kurang dari 15 tahun, Alexander berhasil menguasai wilayah yang luas, mulai dari Balkan, Yunani, Mesir, Persia, hingga pegunungan Himalaya.
Temuan Menarik di Situs Mieza
Penggalian di situs ini telah dilakukan sejak tahun 2024 dan berhasil mengungkap kompleks seluas 30 hektar. Di dalamnya terdapat sebuah kompleks gimnasium yang berfungsi sebagai tempat latihan serta pengajaran akademik. Kompleks di Mieza ini dilengkapi dengan palaestra atau arena gulat, stadion, dan lintasan lari tertutup sepanjang 200 meter yang memungkinkan atlet berlatih tanpa terpengaruh cuaca.
Menurut Smithsonian Magazine, jejak sekolah Alexander Agung dapat ditelusuri melalui tulisan Plutarch dari abad pertama Masehi. Dalam tulisan tersebut, diketahui bahwa Raja Philip II, ayah Alexander Agung, mendirikan sekolah untuk putranya dan para bangsawan lainnya di kota Mieza, Makedonia. Meskipun banyak kompleks yang ditemukan adalah gimnasium, hal ini justru menjadi petunjuk tambahan, karena pada zaman Yunani kuno, sekolah biasanya berada dalam kompleks gimnasium.
Didaskaleion: Tempat Pengajaran yang Ditemukan
Tim arkeolog yang dipimpin oleh Angeliki Kottaridi, direktur emeritus barang antik di Kementerian Kebudayaan Yunani, menemukan sebuah area yang disebut Didaskaleion atau "tempat pengajaran". Area ini diduga digunakan oleh murid-murid untuk belajar dengan menggunakan stylus dan meja batu. Di dekat tempat pengajaran tersebut, ditemukan juga ruang jamuan makan yang didekorasi dengan lantai mozaik yang mewah dan detail yang rumit, serupa dengan istana Philip II di Aigai.
Ruang makan yang bersifat formal ini menunjukkan bahwa pendidikan sosial memiliki peran penting dalam pembelajaran Alexander dan rekan-rekan bangsawannya. Para arkeolog berkesimpulan bahwa ruang ini berfungsi sebagai tempat untuk belajar bergaul, bersikap, dan berperilaku di kalangan elit, yang sama pentingnya dengan pelajaran akademik. "Kemiripan bagian bangunan ini disebut bukan suatu kebetulan belaka. Ini adalah sebuah penegasan bahwa kompleks gimnasium tersebut memang dibangun oleh Philip II untuk pendidikan Alexander, putranya, sekaligus anak-anak bangsawan lain," ungkap Kottaridi.
Ukuran bangunan, kualitas konstruksi, serta kombinasi antara area olahraga dan pengajaran mendukung pandangan bahwa gimnasium di Mieza ini adalah lembaga pendidikan besar, bukan sekadar fasilitas lokal.
Penemuan sebelumnya di kompleks ini juga mengungkapkan pecahan tembikar, koin kuno, dan berbagai barang antik. Selain itu, ditemukan empat alat tulis dari perunggu yang mungkin digunakan oleh murid-murid Aristoteles, termasuk Alexander Agung. Arkeolog juga menemukan fragmen wadah yang digunakan untuk menyimpan minyak zaitun suci dari Athena, menunjukkan bahwa para siswa di kompleks Mieza memiliki akses ke salah satu produk paling berharga di dunia Helenistik.
Meskipun banyak petunjuk telah ditemukan, para arkeolog menyatakan bahwa temuan-temuan ini mungkin tidak dapat dijadikan bukti konkret bahwa Alexander Agung pernah belajar di gimnasium ini. Mereka berencana untuk mengumpulkan lebih banyak peninggalan berdasarkan petunjuk yang telah ditemukan.